This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 27 April 2012

Essay

 
SURAT UNTUK WAKIL RAKYAT


Kepada, yth:
Wakil rakyat di DPR
Yang penuh harapan
Akan kesejahteraan dan kedamaian rakyat


Bapak/Ibu, wakil saya, wakil kami, wakil semua rakyat yang menunggu-nunggu akan datangnya hari gemilang di masa depan.
Bapak/Ibu, tempat naungan kerinduan rakyat,
Masih segar dalam ingatan saya Bapak, ketika melihat televisi sore hari tentang laporan pembagian zakat.  Betapa ibu-ibu renta itu lemas dan kehabisan nafas, diangkut ambulan dengan drackbar seadanya.  Masih belum hilang juga dari retina mata saya, seorang perempuan kecil lugu, diangkat dari kerumunan kegilaan sambil bergulat dengan ajal.  Tangan kecilnya, meraih-raih lemas mencoba menjangkau sandaran hidup. 
Di bagian lain, seorang ibu hamil, menangis penuh keputusasaan, mencoba melindungi darah daging dalam perutnya, dari himpitan massa.  Seorang tua menggendong cucunya yang masih bayi, berteriak-teriak memohon pertolongan sambil melindungi si cucu kesayangannya, dari hempasan gelombang dan amukan orang-orang yang semakin kesurupan oleh secuil uang.
Tahukah Anda Bapak, Ibu?  Mereka berjuang menantang maut, demi sekedar  menunggu satu titik kecil di tengah himpitan kemiskinan sejumlah Rp 30.000,00,  yang mungkin hanya dapat menghidupi mereka barang satu atau dua hari. Ironis sekali, mengharukan, melarutkan lubuk hati yang paling dalam.  Rakyat kita, sekarang menjadi gila.  Gila oleh kemiskinan dan hilangnya harapan.  Putus asa, tanpa pernah tahu kapan mereka mampu meninggalkan keputusasaan itu. 
Saya terus-menerus berlinang air mata Bapak, Ibu.  Terus-menerus sampai siaran itu digantikan oleh iklan.  Dilanjutkan lagi dan iklan lagi.  Tak terperikan pedihnya hati saya kelak, jika rakyat yang sudah fakir ini semakin tak punya harapan.  Sampai sempat terbayangkan hal buruk, kefakiran itu akan membawa kepada kekafiran. 
Betapa perasaan berdosa itu semakin menghantui diri saya, saat diri ini merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Dan semakin pedih saja, ketika sejurus kemudian para “orang pintar” berbicara di TV dengan bahasa saling menyalahkan. 
Mereka dibayar, Pak.  Mereka diberi honor tinggi sekedar berbicara sebentar di TV.  Sementara, disaat “orang pintar” ini menerima amplop honor, di saat yang sama, pencari-pencari  penghidupan itu ada yang sudah meninggal dalam kepapaan.  Seorang generasi penerus bangsa menjadi yatim, seorang ibu tiang negara, menjadi janda.  Dan mereka akan terus berkubang dalam kesengsaraan itu.
Bapak, ibu wakil rakyat, penyambung lidah rakyat. 
Tempat kami para kawula alit ini gantungkan harapan.
Tempat kami para abdi negara ini memendam suka dan duka dalam kesahajaan.
Kami mohon, lihatlah guru-guru yang sudah sepuh dengan segala keterbatasannya.  Guru-guru yang masih muda-muda dengan idealisme tinggi tapi kalah oleh keadaan.  Guru-guru SLB yang penuh dengan kasih sayang, sabar serta telaten.  Merekalah  sokoguru bangsa , Ibu.    Dari merekalah meluncur pemimpin-pemimpin bangsa ini.  Mereka ikhlas dalam terkaman angin dan hujan.    Bahkan dalam raungan kendaraan bermotor dengan asap menebal.  Menuju sekolah, ladang bakti dan pahala.  Hanya niat dan ketulusan yang mereka punya.  Lain itu, tidak ada. 
Ibu tahu?  Betapa mereka selalu kebingungan saat tahun ajaran baru tiba?  Harga buku tulis melangit, seragam membubung tinggi, bahkan iuran sekolah dengan segala tetek bengeknya turut mendentum dalam jantung dan qolbu mereka.  Rupanya dana BOS itu belum cukup juga memberikan ruang waktu bernafas sedikit pada pasak pengeluaran mereka.  Besarnya tunjangan fungsional yang keluar tiap tahun dengan kuota yang super press, sehingga sebagian tidak menerima.  Besarnya tunjangan sertifikasi yang hanya dipunyai oleh kalangan lulusan S1 saja.  Sementara mereka hanya termangu dengan segala kepedihan hati.  Bagaimana tidak?  Mereka tetap belum bisa bersekolah sampai lulus S1 karena ketuaan, kepapaan, meski pengabdian sudah berpuluh tahun.
Perhatikanlah mereka, Pak.  Para guru yang bersusah payah hidup dalam roda zaman yang semakin murka dari hari ke hari.
Para wakil rakyat di dewan
Tempat kami bernaung
Tempat kami menuangkan segala keluh kesah kami
Lihatlah bagaimana para buruh pabrik itu selalu dalam posisi yang kalah dalam bargaining.  Mereka dipenjara dengan “kontrak kerja”.  Dan itulah kondisi sebenarnya.  Bekerja giat sepenuh hati, tapi siap untuk diganti, dan sulit mencari pengganti.  Berapa ratus ribu orang-orang seperti mereka, Pak, Bu?  Padahal merekalah ladang devisa bagi para kontraktor dan investor.  Janganlah dijadikan seperti manisnya tebu, begitu sepah lalu dibuang.  Janganlah dijadikan seperti sapi perah, begitu tua disembelih dan dagingnya dijual murah.  Mereka manusia, Pak, Bu.  Mereka tulang  punggung keluarga.
Pernahkan Anda mendengar jeritan anak mereka di malam dingin saat hujan deras?  Berteriak meminta susu hangat, sementara yang diterimanya “air gula” atau “teh manis”.  Pernahkan Anda mendengar keluhan istri mereka?  Memelas  butuh beras, minyak tanah dan gula.  Sementara yang mereka terima hanyalah ketela, kayu bekas bangunan rusak dan pemanis buatan.  Seberapa kuatkah tubuh mereka bertahan?  Saya tidak dapat membayangkan apa jadinya masa depan bangsa ini jika tubuh rakyatnya hanya terisi makanan seadanya?  Tanpa gizi dan vitamin yang memadai?
Tolonglah Bapak, Ibu.  Kami dalam kondisi kekurangan.  Berikan kami pancing dan kail.  Sehingga kami tetap bermartabat mencari penghidupan yang layak.  Entaskan kami dari kebodohan dengan bantuan sekolah dan alat-alatnya yang murah.  Entaskan kami dari kemiskinan dengan memperhatikan nasib para guru.  Karena merekalah yang membimbing anak-anak kami. Dan entaskan kami dari penjara “kontrak kerja”.  Karena kami ingin anak-anak kami punya sandaran hidup sampai kami tidak kuat lagi bekerja.
Terima kasih bapak, Ibu.  Doa kami selalu menyertai perjuanganmu.


English Version
LETTERS TO THE DEPUTY

Dear:Representatives in the House of RepresentativesA hopefulThe welfare and peace of the people

Mr/Mrs, my representatives, our representatives, representatives of all the people who wait the coming glorious day in the future.Mr / Mrs, where shade longing of the people,Still fresh in my memory Father, when he saw television reports about the division of the evening charity. How old mother was weak and out of breath, were transported by ambulance drackbar potluck. Still have not gone well from the retina of my eye, an innocent little girl, lifted from the madness of the crowd as he wrestled with death. His little hands, groping limp attempt to reach back to live.On the other, a pregnant woman, despairing cry, trying to protect the flesh in his stomach, from the crush of the masses. An old man holding his grandson who was a baby, screaming pleading for help while protecting the beloved grandson, from the raging waves and waves of people getting possessed by a bit of money.Did you know Dad, Mom? They strive to challenge death, to just wait a little dot in the middle of the crush of poverty some Rp 30.000,00, which may only be able to feed them a day or two items. Ironically, moving, dissolving the deepest depths. Our people, now gone mad. Mad by poverty and hopelessness. Despair, never know when they are able to leave despair.I am constantly in tears Mr, Mrs. Broadcast continuously until it is replaced by the advertisement. Continued again and again ad. Unbearable pain of my heart one day, if people are already poor are increasingly hopeless. Until it was unimaginably bad, it will bring poverty to disbelief.What a sense of sin was the haunt me, when it feels itself unable to do anything about it. And the more poignant, when A moment later the "smart people" talking on TV with the language of blame.They are paid, sir. They were given a high honor just to speak briefly on the TV. Meanwhile, while "smart people" received the honor envelope, at the same time, the search-seekers living there who had died in poverty. An orphaned young generation, a pillar of the state capital, became a widow. And they will continue to wallow in misery.Mr/Mrs, representatives of the people, a mouthpiece for the people.The subjects where we are hanging hopes alit.Where we the servants of this country harbored the ups and downs in the simpleness.Please, take a look at the teachers who are elderly with all its limitations. The teachers are still young with high ideals but lost by the state. Special school teachers filled with love, patience and painstaking. They are the pillars of the nation, Mother. They drove from the leaders of this nation. They are sincere in terkaman wind and rain. Even the roar of a motor vehicle with thick smoke. To school, field service and reward. Only intention and sincerity that they have. Another, no.You know? How they are always confused when the new school year arrives? Notebook prices soar, soar uniforms, school tuition, even with all the thunder tits bengeknya participate in their heart and qolbu. BOS funds were apparently not enough to give a little breathing space of time they spend on the pegs. The magnitude of functional benefits that come out every year with a super quotas press, so most do not accept. The amount of benefits that certification is only possessed by the graduates of S1 alone. While they were all just stunned with grief. How not? They still have not been able to attend school until graduation S1 because of aging, poverty, despite decades of devotion have.Consider them, sir. The teachers are struggling to live in the wheel of increasingly angry from day to day.Representatives in the councilWhere we take shelterWhere we pour all our complaintsLook at how the factory workers were always in the losing position in the bargaining. They were imprisoned by the "employment contract". And that's true condition. Work hard all my heart, but ready to be replaced, and it is difficult to find a replacement. How many hundreds of thousands of people like them, sir, ma'am? In fact they are the fields of foreign exchange for the contractors and investors. Do not be like the sweetness of sugar cane, and then discarded as junk. Do not be such as dairy cows, so parents are slaughtered and the meat sold cheap. They are humans, sir, ma'am. They are the backbone of the family.Have you heard the cries of their child on a cold night in heavy rain? Called out for warm milk, while he received "sugar water" or "sweet tea". Have you heard the complaints of their wives? Pleading need rice, kerosene and sugar. While they receive is just sweet, old wooden buildings were damaged, and artificial sweeteners. How strong is their bodies to survive? I can not imagine what would happen if the future of this body of people just filled potluck meal? Without adequate nutrients and vitamins?Please Mr/Mrs. We are in a state of deficiency. Give us a fishing line and hook. So that we remain dignified looking for a decent livelihood. Alleviated with the help of our ignorance of the school and his tools are cheap. Our alleviated from poverty by taking into account the fate of the teachers. Because they are guiding our children. And alleviated us from prison "employment contract". Because we want our children to live until we got back strong no longer works.Thank you, Mrs. Our prayer is always with struggles.

Selasa, 24 April 2012

traveling



Goa Lebar Siap Menerkam
Oleh : Indra Kristika

Saat pulang kampung, saya sempatkan mengantar ibu yang penasaran ingin berkunjung ke “gua lebar” di kota Sampang Madura. Berdasarkan memori masa kecil saya (sekitar tahun 1983), beberapa teman pernah mengajak bermain ke tempat itu. Yang saya temui adalah sebuah lobang besar buatan manusia penuh dengan kesibukan penduduk setempat yang sedang menambang batu kapur untuk batu bata. Sedemikian besarnya lobang itu sehingga saya seperti memasuki dunia lain saat berada di dalamnya. Dan itu tidak sekali dua kali. Namanya anak laki-laki kecil pasti berupaya melakukan eksplorasi menemukan hal-hal baru jauh dari rumahnya. Sehingga saya tahu betul setiap detil dan lekuk gua buatan ini.
Sekitar empat tahun kemudian saat masih berseragam biru putih sempat terdengar berita, sebagian sisi goa runtuh dan menimpa penambang batu gamping yang sedang asyik mencari nafkah. Jelas terbayang kengerian yang luar biasa. Bagaimana tidak, dengan sebegitu banyaknya penambang yang sedang bekerja, kemudian batu seberat ratusan ton runtuh menimbun mereka, bagaikan menginjak cacing dengan sepatu lars tentara. Ajaibnya, hanya tiga orang yang dikabarkan meninggal. Lainnya luka-luka saja.
Goa Lebar Sisi Utara (pintu masuk)
Sejak peristiwa runtuh itu, tidak pernah lagi saya ke areal goa lebar. Apalagi ditunjang studi di Surabaya, semakin menjauhkan saya dari ritual masa kecil (eksplorasi) ke tempat penuh tantangan itu. Sekarangpun, kalau sempat pulang kampung, paling top ke pantai Camplong bersama dua gadis kecil saya yang baru menginjak usia 4 dan 9 tahun.
Tetapi ketika ibu menceritakan penjelasan dari adik saya tentang megahnya goa itu, indahnya pemandangan dari bukit yang ada di atasnya, apalagi dengan tambahan-tambahan irrasional seperti bunyi ombak yang bisa terdengar dari dasar goa, hati saya menjadi tergelitik antara ingin tertawa dan kasihan. Mana mungkin para penambang berani menanggung resiko menembus perut bumi sampai ke pantai! Tapi okelah, sebagai bakti anak kepada ibu, beliau saya antar.
Menjelang sampai lokasi, saya betul-betul terhenyak dengan kondisi di sekitar goa lebar. Jika dulu areal pertambangan itu penuh dengan ladang-ladang jagung menghijau, ilalang liar tinggi menjulang dan tanah bebatuan tajam, kini seperti disulap oleh waktu. Areal pertambangan berkembang pesat di berbagai titik lokasi. Penambang-penambang tradisional menggali sendiri tanah-tanah dan ladang mereka. Alhasil berbagai tempat disepanjang perjalanan penuh dengan lobang-lobang calon “goa lebar” yang baru. Bahkan di satu titik, sebuah galian dengan mesin-mesin modern beraksi dengan gagahnya. Penduduk setempat mengatakan, “itu milik pejabat tinggi di sini, Pak.”
Goa Lebar Dari Sisi Timur (tampak kubah masjid Jami' Sampang) 
Sampai di lokasi goa, jalan menanjak menyambut kedatangan kami. Seingat saya dulu jalan setapak penuh bebatuan, kini berubah menjadi aspal dan plester. Bahkan sepeda motor penjual penthol bakso keliling pun bisa naik ke lokasi goa. Itu belum seberapa. Sampai di puncak bukit, kami disuguhi pemandangan sore yang luar biasa. Lanskap kota sampang dengan kubah masjid Jami’-nya yang membiru, rumah-rumah penduduk, sementara di bagian timur penuh dengan ladang menghijau. Benar-benar indah.
Di sekeliling goa lebar, rupanya Pemda Sampang sudah mengemasnya dengan baik. Ada joglo-joglo kecil tempat istirahat, joglo utama di dekat pintu masuk, warung-warung, dan berbagai fasilitas kecil lainnya. Beberapa pemuda setempat dengan ramahnya menyapa serta menjadi guide gratis kami. Dari merekalah kami tahu pintu masuk goa yang sekarang (setelah runtuh), dan kami dapati sebuah patung Sakera tepat di mulut goa memanggul atap goa.
Sebuah ide yang bagus, membangun bekas penambangan menjadi areal pariwisata kecil dengan penataan yang baik. Hanya sayangnya, masih banyak lubang-lubang kecil atau sedang, dengan kedalaman yang luar biasa menganga tanpa pelindung, siap menelan pengunjung yang tidak waspada. Artinya, wisata goa lebar siap menunggu wisatawan dan korban yang terlena.

Senin, 16 April 2012

Pendidikan Keakraban




BERSEPEDA, OBAT AMPUH KEDEKATAN

Tua gak jadi masalah
Suatu saat di libur akhir pekan, saya bangunkan dua putri saya lebih pagi dari biasanya.  Seperti yang saya janjikan sebelumnya, saat inilah waktu yang paling  tepat untuk berpetualang dengan bersepeda onthel keliling kampung.  Tujuan utama tentu saja refreshing, sekaligus melatih putri tertua saya yang baru saja “agak pandai” naik sepeda dengan terjun langsung menaati peraturan di jalan raya.  Sementara adiknya yang baru menjelang empat tahun saya dudukkan di depan sadel sepeda saya dengan kursi hasil sedikit modifikasi.
Saat bangun saya dapat melihat, betapa mata mereka berbinar-binar tanda rasa senang luar biasa.  Maklum, selama satu pekan penuh dari pagi sampai malam saya  dan istri disibukkan oleh pekerjaan.
Pelan-pelan saya bawa kedua putri kecil saya bersepeda menyusuri jalan-jalan sekitar perumahan dan kampung.  Volume kendaraan yang minim sangat membantu saya mengawasi si sulung yang ngonthel di depan saya.  Sengaja saya suruh berjalan di depan saya agar mudah mengawasinya, serta memberinya arahan saat akan ada mobil atau sepeda motor yang akan mendahului kami.
Asyiknya bersepeda
Agar lebih mengamankan kegiatan, saya belokkan arah ke perumahan yang relatif sepi dari kendaraan.  Dan di sebuah tanah lapang yang asri, kami berhenti sejenak untuk istirahat sekaligus menyantap bekal yang sudah kami siapkan.  Dan kemudian, acara selanjutnya adalah bermain berlarian di tanah lapang tersebut.
Seperti anak kecil lainnya, kedua putri saya dengan sangat bersemangat kesana-kemari berlarian mengejar capung atau kupu-kupu yang kebetulan lewat.  Dapat saya rasakan, betapa riangnya mereka bersama ayahnya yang jarang bisa bermain menghabiskan pagi bersama.
Di kesempatan itu pula saya tanamkan doktrin-doktrin positif tentang pentingnya menjaga lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, dan yang terakhir rasa syukur kepada yang Maha Kuasa atas rezeki kesehatan yang kami punyai.
Saat petualangan kami selesai, di rumah sudah menunggu ibu mereka dengan berbagai menu sarapan mengundang selera.  Anda bisa bayangkan, kedua putri saya makan seperti porsi raksasa.  Maklum saja, seluruh energi mereka pakai saat mengejar capung dan kupu-kupu.
Ayo rame-rame
Malam harinya, saat mereka tertidur pulas saya bisa merasakan, betapa kegiatan yang kelihatan sepele ini, memberikan efek yang luar biasa.  Penghormatan, rasa sayang dan kedekatan mereka kepada saya jadi lebih menonjol.  Jadi, tidak ada susahnya kan membangun kedekatan dengan mereka?  Atau mungkin Anda punya cara lain?


Pendidikan



ASYIKNYA JADI KONDUKTOR


Sang orator!

         Ketika berdiri di depan kelas, makfum saja jika ada guru yang hanya mengajar bagai orator ulung.  Berceramah, memberi pertanyaan, menjelaskan jika ada yang bertanya ( itupun kalau ada yang bertanya!).  Ibarat kampanye, orasi yang sangat meyakinkan, sanggup menggiring “korban”, mengikuti apa kata orator.  Penting  atau tidaknya isi orasi, bukanlah tujuan utama.  Yang pasti, orasi yang disampaikan tadi hanya sekedar ingin menggerakkan mental dan pikiran audiens menuju suatu titik yang dikehendaki orator.  Kelihatan mudah bukan?


Presentasi Hasil Kerja

Anda juga akan makfum, bila metode ini memang cocok untuk pemberian informasi-informasi yang relatif baru dalam proses belajar mengajar di kelas.  Tapi bila sudah masuk dalam detail suatu materi yang perlu dilatihkan ataupun diperdalam lagi, kepiwaian seorang orator tak lagi dibutuhkan.  Disinilah  aspek penalaran mulai berbicara.  Dan jika orasi tetap dilakukan, jelas tidak efektif lagi.  Energi akan habis terkuras begitu saja kan Pak, Bu?  Dan imbasnya materi tidak optimal tersampaikan.
Sebagai cerminan dari hal itu, yang perlu diketahui bahwa setiap siswa mempunyai ciri khas dan karakteristik yang berbeda dengan siswa lainnya.  Siswa yang berkarakteristik cerdas, cenderung  bosan dengan informasi yang datang satu arah.  Idealismenya kadang meledak-ledak dalam diri serta akal budi mereka.  Biasanya, ledakan ini lebih membutuhkan penyaluran semacam aktualisasi diri, atau yang lebih ekstrem lagi……siswa akan memberontak sambil mengucapkan “ganti saya yang akan berbicara”.  Si cantrik model begini biasanya lebih tertantang bila diajak belajar lewat metode  problem solving.
Itu baru satu jenis siswa, masih banyak karakteristik lainnya yang perlu diperhatikan agar target pembelajaran tercapai.  Sebagai contoh, siswa berkarakteristik visual, cenderung mudah menangkap pelajaran lewat simbol-simbol dan gambar.  Pemakaian  flow chart, tabel-tabel dan kolom-kolom, justru menguatkan pemahamannya. 
Repot juga ya menjadi guru! Harus mengenal betul setiap detail siswanya! Tapi itulah tantangan.  Seperti iklan zaman dulu tentang sebotol minuman yang katanya tokcer, jika ingin berhasil mentransfer ilmu kepada anak-anak bangsa ini, seorang guru harus punya trade mark “rasanya berani menyegarkan”.

Konduktor
Salah satu metode yang tergolong efektif dalam mewakili berbagai tipe atau karakteristik siswa tersebut  adalah diskusi kelas.  Dalam suatu forum diskusi, kepekaan, kemampuan daya serap terhadap pengantar yang diceramahkan guru, kekuatan penalaran siswa, tantangan dan penyaluran idealisme terhadap aktualisasi diri siswa, dapat tersalurkan. 
Dalam forum inilah, guru dapat berfungsi sebagai seorang konduktor dengan cara menggerakkan seluruh siswa di kelas untuk aktif dalam proses pembelajaran.  Hanya saja, namanya siswa itu kan masih “anak-anak” (yang cenderung senang bermain dan bercengkerama), sehingga pendampingan oleh guru masih mutlak diperlukan.  Anda tentu sering mengalami, bahwa anak-anak acap kali bertindak secara non procedural jika dibiarkan berkelana dalam alam mereka sendirian.

Kerja Kelompok Dibimbing Asgur

Pembagian kelompok diskusi menjadi kelompok-kelompok kecil (small discussion) akan lebih memudahkan memantau perkembangan dan aktifitas siswa.  Penetapan adanya seorang ketua kelompok, akan sangat membantu ketika memantau dan mengendalikan sekian banyak kelompok dalam proses pembelajaran. 
Sebuah tanggung jawab yang besar dapat diberikan kepada seorang ketua kelompok dengan harapan, tenaga guru tidak hanya disalurkan untuk mengurusi ramainya kelas karena tindakan-tindakan siswa yang kurang efektif, tetapi dapat diwakili oleh sang ketua kelompok.  Hal ini menggambarkan bahwa, setiap ketua kelompok dapat belajar menjadi pemimpin yang bertanggung jawab. 
Dalam forum ini, Panjenengan (guru) dapat memberi reward kepada siswa lewat penilaian secara langsung.  Semisal pemberian nilai afeksi dan psikomotor.  Kelompok yang seluruh anggotanya aktif, tentu akan berbeda nilainya dibandingkan kelompok yang anggotanya kurang aktif.  Sekaligus dapat melihat dengan jelas, siswa mana saja yang kurang dapat beraktifitas serius di dalam proses belajar mengajar.
Ah, indahnya menjadi seorang konduktor! Adi MS saja bangga menjadi konduktor di twilight orchestra-nya, apalagi Anda!

Asgur juga boleh
Sebelum membuat kelompok-kelompok dalam small discussion, ada satu cara mudah mengefektifkan forum diskusi.  Yaitu membuat pemetaan siswa yang dianggap mudah menguasai bahan ajar (bahasa sederhananya siswa yang dianggap pintar).  Mereka-mereka inilah yang direkrut menjadi ketua kelompok sekaligus sebagai tutor/asgur (asisten guru) bagi kawan-kawannya.
Secara tersendiri, asgur perlu di-briefing terlebih dahulu terhadap materi pelajaran yang akan disampaikan.  Penguasaan mereka yang relatif cepat dibandingkan teman lainnya, akan dipakai sebagai fasilitas bagi guru dalam menyampaikan materi.  Itu berarti, dalam suasana diskusi, mereka akan pegang peranan memberikan penjelasan-penjelasan kepada siswa lain dalam kelompoknya secara lebih “personality” tanpa ada rasa sungkan dan malu ketika ada materi yang dianggap belum dapat diterima oleh siswa. 
Dan tentu saja, si asgur akan mendapatkan “koreksi” bila ternyata penjelasan yang dia berikan kurang sesuai dengan konteks yang diajarkan guru dari anggota kelompoknya yang mungkin sudah menguasai materi yang diajarkan.  Disinilah, diskusi menjadi lebih hidup.
Kesimpulannya, guru dapat menghemat energinya menjadi lebih efektif dan efisien, serta menyalurkan energi lain yang masih “hot” kepada kegiatan lain semisal menjelaskan secara lebih rinci kepada kelompok lain yang kebetulan semua anggotanya masih belum jelas dan butuh bimbingan. 
Ternyata, asyik juga ya jadi konduktor dan punya asgur.  Anda punya pengalaman lain?